Menahan Diri dan Esensi Puasa
Menahan diri. Itulah esensi shoum atau puasa yang kita jalankan selama sebulan penuh ini. Secara bahasa shoum berarti “al imsyak” alias menahan. Apa sih yang ditahan? Ya segala yang membatalkan puasa tentunya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim, serta al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni dalam Fath al-Bârî, mengatakan bahwa puasa secara bahasa mengandung pengertian al-imsak (menahan diri).
Adapun puasa secara syar’i adalah, “Menahan diri dari makan, minum, jima’ dan lain-lain yang kita diperintahkan untuk mendahan diri daripadanya sepanjang hari menurut cara yang telah disyari’atkan; disertai dengan menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang merangsang, perkataan yang diharamkan dimakruhkan menurut syarat-syarat dan waktu yang telah ditetapkan.”
Makanya jika kita menyelami makna lebih dalam dari puasa ternyata puasa yang ‘sempurna’ tak hanya menahan lapar dan haus semata… Dari menahan makan dan minum sejak pajar hingga terbenam matahari… hingga manahan emosi… menahan perkataan sia-sia… menahan diri dari segala perilaku yang tak diridhoi-Nya. Mengendalikan seluruh rasa dan panca indra kita agar menjadi rasa dan panca indra yang tunduk kepada nilai-nilai kebenaran yang ditetapkan agama.
Banyak kejadian menarik yang saya saksikan selama menjalani shoum di tahun ini. Dari sekedar urusan rumah tangga, kerjaan di kantor, hingga pergaulan dengan komunitas facebook yang penuh dengan dinamisasi.Semua menorehkan goresan-goresan hikmah yang dalam jika mau direnungi dan dijadikan “ibroh” dalam menapaki kehidupan ini.
Di rumah tangga, kita harus pandai menahan diri menghadapi kenakalan anak-anak dan ‘keluh kesah’ ibunya. Menahan kepentingan kita sendiri untuk memenuhi keinginan anak dan istri yang lebih penting dan mendesak. Menahan diri dari segala ke-otoriteran sebagai pemimpin dan penguasa rumah.
Di tempat kerja, mesti bisa menahan diri dari emosi karena tindakan rekan yang tak bisa menjaga perasaan kita, dari kediktatoran atasan yang egois dan ingin menang sendiri. Menahan diri dari beban kerja yang mungkin kita nilai tak sesuai dengan konpensasi yang akan kita terima. Bahkan atas kesalahan orang lain yang tak mustahil ditimpakan kepada kita.
Di dunia maya yang laksana rimba belantara ini, beragam hal harus disikapi dengan kemampuan menahan diri yang tinggi. Mulai godaan pornografi, tulisan fitnah, hingga berita yang memancing emosi. Semua memerlukan pengendalian diri, menahan hawa nafsu.
Belum lagi saat berinteraksi dengan orang lain di jejaring sosial seperti twiter dan facebook. Manahan diri menjadi sangat dibutuhkan jika kita tak ingin terjerumus dalam situasi yang tak menguntungkan.
Masih ingat kasus Prita Mulaisari? Terlepas dari benar dan salah tindakan ibu rumah tangga ini. Ketidak mampuan untuk “menahan diri” dari menulis email yang kontroversial itu, menyebabkan dia harus mendekam beberapa waktu di dinginnya jeruji besi.
Dalam sekala yang lebih pribadi. Berapa banyak orang yang menjadi korban pergaulan dunia facebok hanya lantaran tak mampu menahan diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Mulai dari status yang memancing pertengkaran antara suami dan istri, hingga goda-menggoda yang berujung pada tindakan asusila yang keji. Semua itu tak terlepas dari kemampuan kita untuk menahan diri. Men gendalikan gelora jiwa yang bergejolak, yang membutuhkan pengendalian.
Sepulang dari perang Badar di tahun kedua Hijriyah, Rasulullah SAW mengatakan kepada para sahabat “Kita kembali dari peperangan kecil dan akan menghadapi peperangan besar (Jihad Akbar)”. Di antara sahabat ada yang bertanya, “apakah ada lagi perang yang lebih besar dan dahsyat dari perang Badar?”Beliau menjawab. “Perang melawan hawa nafsu di dalam diri masing-masing”.
Oleh karena itu… Mari kita meningkatkan kontrol diri, menahan emosi, menjaga stabilitas jiwa. Agar semua terkendali dan dapat diarahkan ke tujuan yang benar dan baik…. Hanya dengan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu kita dapat mengarahkan perilaku kita kearah yang yang lebih sheoleh yang bisa mengantarkan kita ke posisi sebagai hamba Allah yang bertaqwa.
(Ini sebenarnya tulisan Ramadhan tahun 2010 lalu)

Your http://abahguru.com/2011/08/menahan-diri-dan-esensi-puasa/ website is great! You told in Menahan Diri dan Esensi Puasa some trues, but i must agree, you can more.
If you want to get read, this is how you suhold write.
as always an excellent posting. the way you write is awesome. thanks. adding more information will be more useful.http://www.novelafinaestampa.net