Gelang yang Saya Pakai

Ini hanya sekedar cerita ringan, mungkin sebenarnya tak terlalu penting bagi sebagian sahabat Namun bagi saya, sekecil apapun peristiwa dalam kehidupan ini tetaplah penting, karena akan banyak hikmah yang bisa kita ambil. Dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi pelajaran-pelajaran berharga bertaburan disediakan oleh Sang Maha Ilmu dari tiap detik perjalanan kehidupan kita.

Oke, saya tidak akan bicara soal tidur atau menidurkan alias hypnosis sebagaimana tulisan saya biasanya. Saya ingin menceritakan sedikit tes yang saya lakukan dalam rangka meneliti pola pikir manusia. Ini erat kaitannya dengan masalaha persepsi dan repetisi dalam membentuk persepsi tersebut.

Suatu ketika saya datang ke tempat biasanya ngumpul para ikhwan (bahasa Arab berarti saudara-saudara. Biasa digunakan terhadap para aktivis dakwah). Kali ini saya datang dengan penampilan yang sengaja saya bikin nggak biasanya. Saya tetap bergamis sebagaimana biasanya, namun ada sesuatu di tangan saya yang sempat membuat beberapa ikhwah ‘melirik’ saya dengan heran. Dan akhirnya….. he…he…he… Ada juga yang memberanikan diri bertanya kepada saya:

“Wah, pakai gelang ustadz?” Demikian kurang lebih kalimat salah seorang sahabat dengan nada agak sungkan.

“He…he…he… Iya. Agak aneh ya?” tanya saya lagi.

“Iya, tumben-tumbennya antum pake gelang,”

“Nah, justeru itu…. Saya ingin tahu pendapat antum, kira-kira apa hukumnya memakai gelang di tangan? Halal apa haram?”

Teman tersebut hanya tersenyum. Dari sorot matanya tampak sekali bahwa dia tidak berminat untuk menjawab pertanyaan saya. Sebaliknya dia justeru seolah tengah menunggu penjelasan…

“Beini akhi,” ujar saya lebihs erius. “Saya hanya ingin menegaskan saja bahwa dalam beragama kita harus bisa menempatkan sesuatu sesuai hukumnya. Artinya, kita mesti bisa memilah perkara mana yang urgen dan mana yang sebenarnya tidak urgen. Saya tahu bahwa lelaki memakai gelang misalnya, akan dipandang ‘negatif’ pada sebagian ikhwah, padahal ini perkara duniawi yang secara hukum fiqih jelas tidak haram karena tak ada larangannya. Terkecuali tentunya jika gelang tersebut dimaksudkan sebagai jimat, maka jelas secara aqidah hukumnya syirik.

Kalau memakai gelang dianggap haram alias berdosa, maka bisa kita bayangkan berapa juta jama’ah haji Indonesia yang telah menunaikan ibadah memanen dosa selama berhaji? Bukankah jama’ah haji biasanya mengenakan gelang? Namun tentunya gelang tersebut dimaksudkan sebagai identitas diri agar mudah dikenali.

Saya tak ingin menganjurkan para lelaki memakai gelang. Tapi saya hanya ingin merangsang sedikit alam pikiran kita agar bisa berpikir objektif dan menghindarkan diri terjebak stigmasi keliru dengan mengatasnamakan agama.

Soal gelang tadi misalnya…

7 Responses to Gelang yang Saya Pakai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>